Gunung Tangkuban Perahu Erupsi, Hujan Abu Dikabarkan Terus Terjadi

Gunung Tangkuban Perahu Erupsi, Hujan Abu Dikabarkan Terus Terjadi

Jumat, 26 Juli 2019 erupsi gunung tangkuban perahu kembali lagi terjadi. Ya, setelah menunjukkan peningkatan aktifitas, kini gunung tangkuban perahu alami erupsi. Bahkan kolom abunya memiliki ketinggian sekitar 200 meter yang membumbung dari puncaknya. Hujan abu pun sampai sekarang masih terjadi di sekitar gunung tersebut.

Kepala Pusat Vulkanologi Meteorologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) Badan Geologi, Kasbani mengatakan bahwa kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal codong ke timur laut dan selatan. Beliau juga menjelaskan bahwa erupsi gunung tangkuban perahu di seismogram dengan amplitudo maksimum 38 mm, dan dengan durasi sekitar 5 menit 30 detik. Bahkan sampai saat ini gunung tangkuban perahu ada di status level I atau normal.

Erupsi Gunung Tangkuban Perahu Dibagi Menjadi Tiga Fasa

Erupsi Gunung Tangkuban Perahu Dibagi Menjadi Tiga Fasa

Jika dilihat berdasarkan coraknya, erupsi tangkuban perahu ini dibagi menjadi tiga fasa, diantaranya sebagai berikut.

  • Fasa eksplosif yang hasilkan piroklastik dan bisa mengakibatkan terjadinya lahar
  • Fasa efusif yang hasilkan banyaknya aliran lava berkomposisi andesit basaltis
  • Fasa pembentukan atau pertumbuhan gunung tangkuban perahu sekarang biasanya eksplosif kecil – kecil, bahkan terkadang juga diselingi dengan erupsi freatik

Penting sekali untuk diketahui bahwa erupsi gunung tangkuban perahu 2019 bisa digolongkan sebagai erupsi kecil. Lelehan lava gunung tangkuban perahu kemungkinannya terjadi. Sekarang ini para pengunjung, wisatawan, atau pun pendaki masih belum diizinkan untuk turun mendekati dasar kawah ratu dan kawah upas. Bahkan pengunjung juga tidak diperbolehkan untuk menginap di dalam kawasan – kawasan kawah yang aktif dan masih ada di dalam kompleks gunung tangkuban perahu.

Masyarakat di sekitar gunung tangkuban perahu, wisatawan, pedagang, pendaki, juga pengelola wisata gunung tangkuban perahu pun diharap agar lebih waspada mengenai terjadinya letusan freatik dari gunung tangkuban perahu tersebut yang sifatnya tiba – tiba dan tanpa didahului gejala – gejala vulkanik yang jelas.

Belajar dari Pengalaman di Abad ke-19

Gunung Tangkuban Perahu Erupsi, Hujan Abu Dikabarkan Terus Terjadi

Ya, jika dilihat berdasarkan pengalaman sejak abad yang ke-19, gunung tangkuban perahu ini memang tidak pernah menunjukkan erupsi magmatik yang besar, kecuali erupsi abu tanpa diikuti oleh lelehan lava, awan panas, atau pun lontaran batu pijar. Bahkan erupsi gunung tangkuban perahu freatik biasanya menjadi salah satu yang mendominasi.

Tidak hanya itu saja, biasanya juga diikuti pula dengan adanya peningkatan suhu solfatara dan fumarola di beberapa kawah gunung yang aktif. Misalnya saja di kawah ratu, kawah domas, dan juga kawah baru. Perlu untuk diketahui juga bahwa material vulkanik yang dilontarkan ini biasanya berwarna abu – abu. Sebetulnya material ini terbatas, yakni di sekitar daerah puncak sampai di beberapa kilometer saja.

Semburan lumpur akibat letusan gunung tangkuban perahu pun hanya terbatas di daerah – daerah sekitar kawah. Dimana pada waktu terjadinya peningkatan kegiatan, asap putih fumarola atau solfatara pun kadang kalanya juga diikuti pula dengan adanya peningkatan gas – gas vulkanik, seperti halnya gas racun CO dan CO2.

Jika akumulasi gas – gasa racun yang ada di sekitar kawah aktif semakin tinggi, daerahnya tentu saja bisa diklasifikasikan ke dalam daerah yang berbahaya primer terbatas. Sementara itu untuk bahaya sekunder sendiri seperti banjir lahar gunung tangkuban perahu juga tidak pernah terjadi dalam waktu sejarah. Longsoran lokal terjadi di dalam kawah saja dan juga di lereng atas yang terjal.

Demikianlah informasi yang bisa kami bagikan tentang gunung tangkuban perahu erupsi. Semoga bermanfaat dan semoga kita senantiasa diberi keselamatan oleh Tuhan Yang Maha Esa dari segala marabahaya. Amin.

This page needs javascript enabled !