Harta Bos First Travel Disita Negara

Harta Bos First Travel Disita Negara

Beriwarta – Hasil dari Pengadilan Tinggi (PT) Bandung memutuskan bahwa aset-aset yang dimiliki First Travel akan disita oleh negara. Dari putusan tersebut, terpidana kasus First Travel Andika Surachman mengajukan banding melalui kuasa hukumnya. Namun, pada Jum’at (31/8) ini, PT Bandung memberikan keputusan untuk menolak banding atas keputusan harta Bos First Travel disita negara.

Dalam keterangan Lutfi selaku kuasa Hukum Andika Surachman, menyampaikan bahwa masih ada usaha termasuk untuk usaha di jalur non hukum yakni dengan menyurati Presiden Jowowi. Lutfi juga menambahkan bahwa harta Bos First Travel disita negara tersebut akan dimintai pertanggung jawabannya.

Lutfi juga mempertanyakan mengapa harta Bos First Travel disita negara. Apa maksud dari disita negara, karena uang tersebut adalah milik jemaah dari First Travel. Jika uang tersebut adalah uang hasil korupsi, maka wajar bisa negara menyitanya. Namun dalam kasus ini dianggapnya berbeda tambahnya.

Selain sudah menyampaikan ke MA, pihak First travel juga sudah mengkomunikasikan dengan Komisi III DPR. Namun pihak MA sendiri belum memberikan tanggapan atas permintaan pihak First Travel yang diwakili oleh Lutfi. Sedangkan komunikasi pada Komisi III DPR bertujuan untuk mempertanyakan nasib jemaah nantinya setelah harta Bos First Travel disita negara.

Surat yang konon akan disampaikan pada Presiden Jokowi juga telah tersampaikan melalui Tenaga Ahli Utama Deputi IV KSP, Ali Mochtar Ngabalin. Hal itu disampaikan setelah Lutfi dan beberapa perwakilan jemaah menemuinya untuk meminta kejelasan megenai nasib para jemaag First Travel terutama setelah harta Bos First Travel disita negara. Dalam pertemuan tersebut, Lutfi juga menyampaikan bahwa dia memohon agar 63.310 jemaah yang gagal dapat dibantu atau ditanggung oleh pemerintah.

Sebelumnya, baik Andika dan Anniesa Hasibuan dituntut hukuman 20 tahun serta 18 tahun penjara dalam kasus tersebut. Sedangkan harta Bos First Travel disita negara berupa kacamata mahal, ikatpinggang, jam tangan serta beberapa smartphone. Sedangkan kabar lain menyebutkan bahwa nilai kerugian akibat penipuan ini mencapai Rp. 905 Milyar.