Bentrokan di Gaza Tewaskan 52 Warga Palestina

Kerusuhan kembali terjadi di wilayah konflik perbatasan Palestina dan Israel. Dilansir dari kantor berita AFP, kejadian yang terjadi pada hari Senin (14/5) lalu itu terjadi karena demo besar-besaran yang dilakukan oleh warga Palestina pada Israel. Dalam bentrokan di Gaza tewaskan 52 warga Palestina termasuk anak anak dan wanita.

Demo yang memicu adanya bentrokan di Gaza tewaskan 52 warga Palestina tersebut adalah demo menolak kepindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv menuju ke Yerussalem. Demo ini sebenarnya sudah dilakukan sejak hari Jumat di bulan Maret lalu. Namun kejadian pada hari Senin lalu dianggap merupakan kejadian paling berdarah bahkan sepanjang kejadian bentrokan sejak tahun 2014 lalu.

Setelah bentrokan di Gaza tewaskan 52 warga Palestina tersebut, demo sempat terhenti saat matahari terbenam. Namun pada Selasa (15/5) pagi hari ini, demo besar besaran menolak langkah Amerika Serikat tersebut kembali terjadi. 52 orang tewas akibat bentrokan tersebut dan lebih dari 2100 orang terluka akibat tindakan militer Israel.

Meskipun demikian, usaha pemerintah AS untuk memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv tersebut tidak bergeming dan terus dilaksanakan. Bahkan putri dari Presiden AS yakni Ivanka Trump turut hadir dalam peresmian Kedutaan besar tersebut yang juga didampingi oleh suaminya Jared Kushner. Tindakan yang menyebabkan bentrokan di Gaza tewaskan 52 warga Palestina ini ditentang oleh beberapa negara menyangkut perjanjian antara kedua belah pihak dulu.

Beberapa negara seperti Rusia, Moroko, Turki dan juga Inggris turut memprotes keputusan sepihak ini. Dalam keterangannya, Juru Bicara Perdana Menteri Inggris, Theresa May mengungkapkan bahwa Inggris tidak memiliki rencana untuk memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem karena perjanjian atas Yerusalem tersebut belum final. Dunia juga mengecam dampak dari bentrokan di Gaza tewaskan 52 warga Palestina tersebut yang menunjukkan agresifitas Israel dalam menangani protes yang diberikan oleh rakyat Palestina. Bahkan salah satu media massa Israel juga mengritik langkah Perdana Menteri Israel terutama masalah penanganan terhadap warga Gaza.

This page needs javascript enabled !