Operasi Berakhir, Polisi Kembali Kuasai Mako Brimob Depok

Sejak Selasa (8/5) kemarin, Lapas Mako Brimob Depok dikuasai oleh narapidana kasus terorisme. Kasus tersebut bermula dari kunjungan keluarga yang mengantarkan makanan ke salah satu penghuni lapas Mako Brimob Depok namun menolak ketika makanan tersebut hendak diperiksa. Namun sumber lain juga mengatakan bahwa salah satu penyebab kerusuhan tersebut adalah ketika ditemukannya ponsel dalam sebuah ruang tahanan kemudian terjadi cek cok antara petugas dan tahanan yang tidak terima ponselnya diambil. Kejadian yang berlangsung selama 36 jam tersebut akhirnya berakhir pada hari Kamis (10/5) setelah 150 narapidana menyerahkan diri pada pukul 7.15 dan Polisi kembali kuasai Mako Brimob Depok.

Sebelum Polisi kembali kuasai Mako Brimob Depok, ada 5 korban tewas yang merupakan anggota dari kepolisian. Korban tersebut ialah:
1. Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto
2. Aipda Luar Biasa Anumerta Deni Setiadi
3. Brigpol Luar Biasa Anumerta Fandi Setyo Nugroho
4. Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadli
5. Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas

Kelima korban yang bertugas tersebut mendapatkan kenaikan pangkat anumerta dari pihak Kepolisian. Menurut keterangan pihak terkait, kelima petugas yang menjadi korban tersebut meninggal akibat benda tajam. Sedangkan sebelum detik detik petugas Polisi kembali kuasai Mako Brimob Depok, terdengar beberapa kali ledakan di lokasi kejadian. Dari informasi yang didapat, ledakan tersebut adalah tindakan dari pihak Kepolisian untuk melakukan penyisiran lokasi. Selain dari pihak kepolisian, ada seorang korban tewas dari pihak narapidana. Napi tersebut terpaksad ditembak karena berusaha melawan saat akan ditangkap.

Seusai Polisi kembali kuasai Mako Brimob Depok, dikabarkan seluruh narapidana kasus terorisme yang terlibat dengan kasus kerusuhan di Mako Brimob tersebut akan dipindahkan ke Nusakambangan. Wakapolri juga menambahkan bahwa selama usaha penguasaan kembali lapas Mako Brimob, tidak ada negosiasi antara pihak kepolisian dan pihak napi teroris. Satu satunya negosiasi adalah ketika adanya penukaran sandera dengan 150 nasi bungkus.

This page needs javascript enabled !